bisnis kerajinan kayu

Di rumahnya Kuncen Yogyakarta, Pak Aris membuat kerajinan kayu berbahan baku kayu mahoni. “Alasan penggunaan kayu mahoni karena memiliki karakter lebih mudah diproduksi dan lebih murah, ” jelas bapak dua orang putri tersebut.

Menurut dia, produk kerajinan kursi, meja dan tempat tidur itu menggunakan bahan baku kayu jati dan mahoni yang didatangkan dari Jawa Tengah. Di sana, barulah ia terpikir untuk membuat usaha sendiri berupa kerajinan dari limbah. Pada 1997, dengan modal sebesar Rp 5 juta yang dikumpulkannya selama menjadi TKI, Widodo pun membuka usaha ini. Ia pun meminta temannya yang memang ahli membuat kerajinan kayu untuk mengajarinya.

Unik, lucu dan menarik, inilah deretan sepeda klasik yang dimiliki Sarijo, warga Dukuh Seworangan, Desa Tambakan, Jogonalan, Klaten, Jawa Tengah. Siapa sangka deretan sepeda unik ini merupakan sepeda kayu yang dibuat dari sisa bahan produksi limbah kayu perusahaan yang tidak berguna. Agus mengaku, dalam sebulan dirinya bisa meraup omzet sampai ratusan juta dari peluang usaha kerajinan tersebut. “Jadi memang mulanya saya punya usaha furnitur, sudah sejak dari tahun 1999, terus di 2012 mulai sulit mendapatkan kayu jati sebagai bahan baku. Peluang itulah yang selama ini ditekuni Aris Suryono dengan memproduksi kerajinan berbahan baku kayu sejak tahun 1997.

Kayu mahoni yang dibeli dari toko kayu lokal Jogja dikreasi menjadi berbagai macam produk seperti Panel, tempat surat, gantungan baju, cermin, dan lampu. “Saat ini kami lebih fokus mengerjakan panel karena permintaan yang masih stabil, ” imbuh pria asli kota ukir Jepara tersebut. Kerajinan kayu bagi masyarakat Indonesia merupakan produk yang sudah lama ditekuni dan menjadi salah satu kekayaan seni kriya yang dikenal hingga ke mancanegara. Daerah-daerah seperti di Kalimantan, Jawa Tengah, Sulawesi, Bali, dan Papua memiliki jenis kerajinan kayu yang berbeda-beda sehingga makin menambah keragaman budaya negeri ini.

BANTUL, iNews. id – Seorang warga Bantul, Agung Setiawan berhasil bangkit dan sukses menjadi eksportir setelah sempat terpuruk karena usaha jual beli kayu merugi. Berawal dari niatnya yang tulus menolong bule kesasar, pemilik usaha woodeco ini berhasil mengembangkan produk kerajinan berbahan limbah kayu yang banyak diminati pasar mancanegera. Saat membuat kerajinan kayu jati, Suniary membeli bahan baku berupa akar kayu atau bonggol untuk dibentuk ukiran dan lembaran kayu untuk bahan dasar mebel. Kerajian kayu jati itu harganya berkisar dari ratusan ribu rupiah hingga puluhan juta rupiah dari petani. Agus bercerita, pada 2012 lalu bisnis furniturnya mengalami kelesuan, bahan baku kayu jati mulai sulit didapat. Dari sana, dia mulai berkreasi memanfaatkan sisa potongan kayu jati hingga potongan akar, menjadi produk seperti dari patung, furniture, dan kerajinan lainnya.

bisnis kerajinan kayu

Siapa sangka, Slamet Widodo, yang dulu sempat menjadi kernet, supir angkutan umum, gagal menjadi tentara, dan menjadi TKI ke luar negeri kini sukses menjadi pengusaha kerajinan dari limbah kayu. Rutin mengirim produknya ke Turki dan Iran, Widodo mampu meraih omset hingga Rp 100 juta per bulan.

Alhasil Rinto pun menjajal untuk membuat mebel di rumah menggunakan sejumlah kayu sisa. Di tempat produksinya yaitu di Klaten, Andra mengerjakan berbagai pesanan dari para pelanggannya dengan dibantu oleh 75 orang pengrajin. Saat ini ia sudah berhasil menciptakan 300 desain baik itu kerajinan maupun produk furnitur. Harga yang ditawarkan berkisar antara ratusan ribu rupiah hingga puluhan juta rupiah.

Kerajinan kayu tersebut ketika ditekuni ternyata bisa menjadi sebuah usaha yang memiliki prospek menjanjikan, terutama bagi daerah yang selama ini menjadi salah satu tujuan wisata baik domestik maupun mancanegara. Semula, Rinto, begitu dia biasa disapa, hanya ingin memanfaatkan halaman belakang rumahnya di Tangerang Selatan. Iseng, dia kemudian membuat kerajinan dengan bahan kayu jati belanda.